Nikmat - Nikmat untuk wanita sholehah di surga
Adapun para wanita dunia…apakah mereka
jika masuk surga akan mendapatkan bidadara sebagaimana para lelaki
surga mendapatkan para bidadari??
Berikut beberapa perkara yang berkaitan dengan pertanyaan di atas:
Pertama :
Jika para wanita dunia beriman dan beramal sholeh maka mereka juga akan
mendapatkan kenikmatan para bidadara sebagaimana ditunjukan oleh
keumuman ayat-ayat yang menegaskan bahwasanya bagi para penduduk surga
segala apa yang mereka inginkan dan hasratkan.
Seperti firman Allah :
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُمْ
فِيهَا مَا يَشَاءُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (٣١)
"(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa" (QS An-Nahl : 31)
لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ كَانَ عَلَى رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولا (١٦)
"Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki,sedang mereka kekal (di dalamnya). (hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya)" (QS Al-Furqoon : 16)
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (٣٤)
"Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik" (QS Az-Zumar : 34)
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)
"Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya" (QS Qoof : 35)
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ
وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا
تَدَّعُونَ (٣١)
"Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di
dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di
dalamnya apa yang kamu minta" (QS Fushshilat : 31)
Dan diantara perkara yang sangat dihasratkan oleh manusia adalah
kenikmatan berjimak. Dan kenikmatan surga bukanlah diciptakan dan
disediakan oleh Allah hanya untuk para lelaki saja akan tetapi kepada
seluruh orang-orang yang bertakwa baik dari kalangan lelaki maupun
wanita. Allah berfirman
وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun
wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam
surga.(QS An-Nisaa :124)
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
Dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun
perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga,
mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Ghoofir : 40)
Yang dimaksud dengan bidadara adalah dari kalangan lelaki dunia yang
masuk surga (lihat Majmu' Fatawa Syaikh al-'Utsaimin 2/53). Dan tentunya
seorang lelaki yang masuk surga akan dimodifikasi tubuh dan parasnya
oleh Allah menjadi tampan dan elok sebagai bidadara (sebagaimana akan
datang penjelasannya)
Kedua :
Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa sebab kenapa sama sekali
tidak disebutkan tentang bidadara bagi para wanita, diantaranya:
- Karena para wanita asalnya merekalah yang dicari dan
dikejar-kejar, bukan sebaliknya. (lihat Majmu' Fatawaa Syaikh
al-'Utsaimin 2/53) Jadi merupakan perkara yang kurang etis jika
dikesankan bahwasanya para wanita mengejar-ngejar para bidadara.
- Dalam dalil-dalil disebutkan tentang keindahan tubuh para
bidadari dengan agak detail, tentunya hal ini sangatlah kurang pas jika
disebutkan tentang body atau keindahan tubuh para bidadara dihadapan
para wanita, karena asalnya para wanita memiliki sifat malu yang sangat
tinggi… malu untuk membaca atau mendengar, apalagi membicarakan
keindahan tubuh para bidadara
Ketiga :
Yang perlu diingat bahwasanya kenikmatan di surga sangatlah banyak dan
tidak terbayangkan. Kenikmatan di surga bukanlah hanya kenikmatan jimak
saja, akan tetapi masih terlalu banyak kenikmatan yang lain yang banyak
dan bervariasi
Keempat :
Para ulama juga menyebutkan bahwsanya para wanita dunia jika beriman
dan beramal sholeh hingga masuk surga maka mereka akan lebih mulia dan
lebih cantik dari para bidadari surga.
Hal ini dikarenakan karena para wanita dunia telah menjalankan
kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan kepada mereka, mereka
menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya dengan penuh
kesabaran tatkala di dunia. Hal ini berbeda dengan para bidadari surga
yang langsung diciptakan dewasa dan tanpa pembebanan tugas dari Allah,
mereka diciptakan untuk disediakan bagi para lelaki penghuni surga. Ada
beberapa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan akan
hal ini akan tetapi hadits-hadits tersebut lemah.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu 'anhaa bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
بَلْ نِسَاءُ الدُّنْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ
"Bahkan wanita dunia lebih afdol dari pada para bidadari" (HR
At-Thobrooni dalam Al-Mu'jam Al-Kabiir no 780. Hadits ini dilemahkan
oleh Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaaid 7/255 dan juga Syaikh Al-Albani
dalam Dho'if 2230)
Kelima :
Para wanita dunia janganlah menyangka jika mereka masuk ke dalam surga
lantas wajah mereka tidak berubah. Allah akan mempercantik wajah-wajah
mereka dengan secantik-cantiknya sebagaimana telah dijelaskan dalam
hadits-hadits yang shahih bahwasanya tubuh para penghuni surga
dimodifikasi oleh Allah sehingga menjadi lebih besar dan lebih tampan
dan cantik. (Lihat penjelasan tentang jasad tatkala kebangkitan
merupakan modifikasi dari jasad yang ada di dunia di Majmuu Fataawa Ibni
Taimiyyah 17/252 dan Syarh al-'Aqidah at-Thohawiyah li Ibni Abi al-'Iz
al-Hanafi hal 277). Tubuh dan rupa para penghuni surga menjadi muda dan
besar serta tingginya 60 hasta, selain itu juga tubuh mereka bersih
tidak ada kotorannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ آدَمَ
"Semua yang masuk surga seperti bentuknya Nabi Adam" (HR Al-Bukhari no 3326)
Dalam hadits yang lain
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ
لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ
دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُوْلُوْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطُوْنَ
وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُوْنَ ... وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ
الْعِيْنُ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ
سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ
"Sesungguhnya rombangan pertama yang masuk surga seperti rembulan yang
bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang
yang paling terang di langit, mereka tidak buang air kecil, tidak buang
air besar, tidak membuang ludah, tidak beringus….istri-istri mereka
adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai, rupa mereka
semua seperti rupa ayah mereka Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta
menjulang ke langit" (HR Al-Bukhari 3327)
Keenam :
Meskipun dalam surga seorang lelaki bisa saja memiliki banyak bidadari,
bahkan bisa jadi memiliki banyak istri yang dahulunya adalah
istri-istrinya di dunia maka sama sekali tidak akan ada dalam hati-hati
mereka rasa dengki dan rasa cemburu. Allah telah berfirman ;
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ
الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا
كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ
رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٤٣)
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka;
mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji
bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami
sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami
petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa
kebenaran." dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan
kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (QS Al-A'roof : 43)
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (٤٧)
Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka,
sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas
dipan-dipan. (QS al-Hijr : 47)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُ سَاقِهِمَا مِنْ
وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحَسَنِ لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ
تَبَاغُضَ قُلُوْبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ يُسَبِّحُوْنَ اللهَ بُكْرَةً
وَعَشِيًّا
"Bagi setiap penghuni surga dua orang istri, terlihat sum-sum betisnya
dari balik dagingnya karena indahnya, tidak ada perselisihan diantara
mereka serta tidak ada permusuhan. Hati-hati mereka hati yang satu,
mereka bertasbih kepada Allah pagi dan petang" (HR Muslim no 2834)
Oleh karenanya jelas bahwa yang berlaku di dunia tidak sama dengan yang
berlaku di akhirat. Jika di dunia poligami menimbulkan kesedihan dan
kecemburuan sertap permusuhan maka tidaklah demikian tatkala di akhirat.
seseorang yang masuk surga tidak akan sedih dan khawatir.
Ketujuh : Seorang wanita tidak keluar dari salah satu dari kondisi-kondisi berikut ini:
Pertama : Ia meninggal sebelum menikah. Maka wanita ini bisa
jadi dinikahkan dengan lelaki dunia yang masuk surga yang akan
menyenangkan hatinya (lihat Majmu Fatawa Syaikh al-'Utsaimin 2/53).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
"Tidak ada seorang yang membujang pun di surga" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1736 dan 2006)
Kedua : Ia meninggal setelah bercerai dan belum sempat menikah lagi, maka kondisi wanita ini sama dengan kondisi wanita pertama
Ketiga : Ia meninggal dalam keadaan bersuami, akan tetapi
suaminya tidak masuk surga bersamanya. Kondisi wanita ini juga sama
dengan kondisi wanita yang pertama dan yang kedua.
Syaikh al-'Utsaimin rahimahullah berkata, "Seorang wanita jika masuk
surga dan belum menikah atau suaminya tidak masuk surga, maka jika
wanita ini masuk surga maka akan ada para lelaki dunia yang masuk surga
yang belum menikah, maka bagi para lelaki tersebut para istri dari
bidadari dan juga dari para wanita dunia –tentunya jika para lelaki
tersebut berminat-" (Majmu' Fatawa Syaikh al-'Utsaimin 2/52)
Yang penting bahwasanya para wanita yang masuk surga pasti bersuami.
Keempat : Ia meninggal setelah menikah dengan suaminya. Maka di surga ia akan menjadi istri suaminya tersebut
Kelima : Suaminya lebih dahulu meninggal dan setelah itu ia
tidak menikah lagi hingga meninggal dunia. Maka wanita ini juga
kondisinya sama dengan wanita yang keempat, ia akan menjadi istri
suaminya tersebut.
Keenam : Setelah suaminya meninggal iapun menikah lagi dengan
lelaki lain, meskipun menikah berkali-kali, maka ia akan menjadi istri
dari suaminya yang terakhir.
Tatkala Mu'awiyah radhiallahu 'anhu melamar Ummu Dardaa' maka Ummu
Dardaa'pun menolak lamarannya dan berkata, "Aku mendengar Abu Darda'
(suaminya yang telah meninggal-pen) berkata, Aku mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
"Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir".
Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa'" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1281)
Hudzaifah radhiallahu 'anhu juga pernah berkata kepada istrinya:
إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي
بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي
الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ
أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ
"Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah
lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi
istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan
istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menikah lagi
setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di
surga" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1281)
Kedelapan :
Jika perkaranya adalah sebaliknya, yaitu seorang wanita dunia
bermaksiat dan membangkang kepada suaminya maka ia tentu akan kalah
bersaing dengan para bidadari surga dan akan menyebabkannya terjerumus
dalam neraka jahannam. Bahkan tatkala seorang wanita dunia menyakiti
hati suaminya maka bidadari surga akan protes dengan perlakuannya
sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا ؛ إِلاَّ قَالَتْ
زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ ؛
فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا
"Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di
akhirat dari bidadari akan berkata, "Janganlah engka mengganggunya,
semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu di sisimu,
hampir-hampir lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami" (HR At-Thirmidzi
dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah
no 173)